Selasa, 11 April 2017
Bagaimana Cara Mengajar Dengan Metode Film?
Bagaimana perasaan Bapak/Ibu jika pada saat kultum siswa mendapat label “Guru Ndeso” (Guru dari desa)? Maka setelah tiga bulan mengajar, penyakit migren saya kambuh. Saya merasakan gelora amarah, malu dan dendam yang luar biasa. Akan tetapi saya mencoba menahan rasa amarah tersebut dan mencoba merefleksi diri guna mengubah energi kemarahan menjadi energi mencari solusi. Saya mencoba menggunakan metode film pada pembelajaran IPS, dibantu teman sejawat senior yang mahir menggunkan metode tersebut.
Ada banyak manfaat yang saya rasakan setelah saya menerapkan metode tersebut. Pertama, lebel “Guru Ndeso” mulai pudar bahkan nama saya mulai ada di hati siswa walaupun baru sedikit. Tapi hal itu merupakan suatu modal besar, karena dengan penerimaan siswa inilah saya bisa menjalankan skenario pembelajaran dengan lebih baik. Kedua, Saya melihat ekspresi kebahagiaan ketika mereka belajar. Jika belajar dilandasi dengan rasa senang, maka akan lebih mudah untuk belajar. Ketiga, memori tertanam kuat pada siswa. Hal ini terbukti setelah lebih dari 4 tahun lulus SD, salah satu siswa saya masih sangat mengenang perannya memegang bendera pada saat bermain film. Padahal itu peran yang sangat sederhana, bukan peran utama. Keempat, saya dipertemukan dan dikalahkan dalam lomba membuat film tingkat nasional oleh siswa yang pernah saya didik. Kelima, alhamdulillah, penyakit migren tidak datang lagi hingga saat ini. Oleh sebab itu, saya sangat yakin bahwa mengajar dengan metode ini sangat banyak manfaatnya.
Sebenarnya mengajar dengan menggunakan metode film hampir sama dengan sosiodrama. Perbedaannya adalah: 1) Adegan dalam film relatif lebih fleksibel, 2) semua siswa akan fokus pada suatu adegan, 3) setting background lebih mudah diatur, 4) banyak peran yang bisa dijalankan siswa, seperti cameraman, sutradara, clepper, lighling, dan sebagainya. 5) cerita yang diambil hanya dalam frame lensa kamera saja, sehingga wilayah itu sajalah yang perlu disetting, 6) semua materi dalam mata pelajaran bisa menggunakan metode film, dan 6) hasilnya bisa dilihat ulang dengan lebih didramatisir menggunakan efek-efek tertentu.
Perlengkapan yang dibutuhkan pun bisa disesuaikan. Jika ada perlengkapan film yang memadai sangat bagus, tetapi seandainya tidak pun, cukup mengguankaan kamera digital atau HP yang berkamera.
Adapun langkah-langkah mengajar dengan metode film adalah sebagai berikut:
1. Menentukan materi, waktu yang tersedia, dan jumlah siswa yang terlibat. Hal ini penting untuk menentukan sedetail apa film yang akan dibuat.
2. Membuat skenario film. Sebaiknya skenario ini menggambarkan 3 hal setiap adegan yaitu adegan, visual, dan audio. Setiap anak sebainya memegang skenario film.
3. Membuat story board (untuk panduan sutradara dan cameraman).
4. Menentukan pemeran dan pendukung.
5. Melaksanakan shooting
6. Melakukan editing sesuai dengan alur cerita yang diinginkan.
7. Menambahkan efek visual dan efek suara.
8. Rendering dan publikasi hasil.
Langganan:
Postingan (Atom)